Awas, Miras Legal Kejahatan Makin Besar

Awas, Miras Legal Kejahatan Makin Besar

Peredaran miras (minuman keras) atau minol (minuman beralkohol) makin beredar luas. Seperti kejadian yang terjadi pada Rabu, 7 februari 2018, Polsek daerah Sumedang merazia truk yang mengangkut ribuan botol miras. Razia tersebut dilakukan sebenarnya dalam rangka pengamanan menjelang Pilkada seperti yang dilansir pada laman news.detik.com. Kejadian serupa juga terjadi di Jalan Raya Bogor-Sukabumi sebuah truk besar yang anjlok karena jalan berlubang juga ketahuan membawa minuman keras yang ditempatkan dalam kardus-kardus. Kemudian, kejadian ini dilihat oleh salah satu anggota ormas Islam yang melintas dijalan tersebut yang selanjutnya dilaporkan ke aparat Polisi yang sedang melintas(10/2/2018).

Bahkan menurut riset yang dilakukan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI menunjukkan hasil bahwa dari 327 responden dengan usia 12-21 tahun, sebanyak 22 % responden pernah mengaku mengonsumsi miras dan 45% lainnya pernah mengonsumsi miras oplosan. Riset tersebut dilakukan pada bulan Februari-Maret 2017, bahkan Kepala Departemen Peneliti Lakpesdam PWNU DKI Jakarta Abdul Wahid Hasyim mengatakan “Jumlah responden di bawah umur yang mengonsumsi minuman beralkohol oplosan ternyata cukup tinggi yaitu 65,3 persen” seperti yang dilansir pada kompas.com (15/8/2017).

Minuman keras sebenarnya jika ditinjau dari aspek kesehatan tentu merupakan suatu yang tidak baik untuk tubuh, terlebih lagi dapat menyebabkan hilangnya kesadaran bagi peminumnya. Sehingga dapat menimbulkan berbagai kejahatan yang lainnya. Kasus terbaru yang terjadi di Pulau Dewata misalnya, kakak adik yang awalnya tengah berpesta miras dengan teman-temannya kemudian terjadi perkelahian antara keduanya. Sehingga, salah seorang dari keduanya tertikam dan tewas.

Tidak hanya itu saja, kasus yang sempat menghebohkan yaitu kasus pencabulan seorang remaja bernama Yuyun yang diperkosa oleh beberapa orang remaja yang ternyata tengah mabuk hingga menyebabkan hilangnya nyawa seorang remaja yang berumur 14 tahun disebabkan akibat mengonsumsi miras. Tentu dari kasus-kasus tersebut sudah cukup untuk membuktikan bahwa betapa bahayanya miras bagi peminumnya bahkan bagi orang lain juga.

Banyak aspek yang menjadi faktor penyebab maraknya peredaran miras hari ini. Pertama, jika dilihat dari aspek individu saja, ketakwaan individu sepertinya menjadi suatu hal yang sangatlah langka saat ini. Alasannya karena, aspek aqidah yang harusnya bisa menjadi benteng terakhir seorang muslim ketika dihadapkan pada sebuah kemaksiatan justru melemah hari ini. Bahkan, dalam mengerjakan suatu kemaksiatan misalnya pacaran menjadi suatu hal yang wajar dilakukan di tempat umum. Ditambah lagi aspek kedua yaitu masyarakat yang hari ini seperti bertindak individualis dan tidak mau tahu terhadap kemaksiatan yang tengah terjadi dan marak dalam masyarakat. Kemudian, dari aspek yang terpenting hari ini yaitu negara atau pemerintahan. Dimana, saat ini pemerintah cenderung membolehkan miras. Hal ini bisa dibuktikan dengan diperbolehkannya miras dijual di swalayan-swalayan maupun diskotik-diskotik.

Apalagi ditambah saat ini menurut Ketua MPR Zulkifli Hasan, saat berbicara pada acara Tanwir I Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, mengungkapkan bahwa terdapat delapan partai di DPR yang setuju miras dijual bebas. “Sekarang ini sudah ada delapan partai politik di DPR RI yang menyetujui minuman keras dijual di warung-warung” sebagaimana yang dilansir Antara, Sabtu (20/1/2018).

Jika ditinjau dari aspek ekonomi, pemproduksian minuman mengandung etil alkohol memberikan pemasukan yang cukup besar bagi negara. Dimana, pemasukan negara dari cukai Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) sebesar Rp 6,4 triliun (target RAPBN 2016). Namun, bila dibandingkan dengan cukai etil alkohol (bila tidak diproduksi sebagai minol) cukainya hanya Rp 171,2 milliar. Bahkan, pemerintah menargetkan agar penerimaan dari cukai etil alkohol sebesar 170 milliar dan dari MMEA sebesar Rp 6,5 triliun (kontan.co.id, 2/11/2017).

Selain itu, dari alasan investasi Willem Petrus yang merupakan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin mengatakan RUU minuman beralkohol harus disusun dengan mempertimbangkan keseimbangan antara investasi yang sudah ada dan kemungkinan penyalahgunaan produk tersebut. Menurutnya, “Investasi yang sudah ada tentu tidak bisa disudahi begitu saja”. Hal tersebut tentu sejalan dengan para pengusaha minol atau miras tentu tidak menginginkan agar terjadi pelarangan minuman beralkohol dan mendukung agar pemerintah hanya melakukan pengaturan dan pengawasan peredaran minuman keras. “Dengan berisi pengawasan dan pengaturan minol, UU tersebut akan memenuhi tujuan pengawasan, tetapi tidak mematikan industri resmi minol,” ujar Ronny Titiheruw sebagai Anggota Komite Eksekutif Grup Industri Minuman Malt Indonesia (GIMMI) (bisnis.com, 21/10/2017).

Suatu hal yang wajar jika saat ini pemerintah masih membolehkan minuman keras karena alasan pemasukan yang besar dari cukainya dan akan menimbulkan suatu kerugian bagi para pengusaha minol jika terjadi pelarangan minuman beralkohol. Karena saat ini yang digunakan sebagai pandangan hidup ialah ideologi Kapitalisme yang berasaskan ide sekularisme atau paham yang memisahkan ajaran agama dari pengaturan kehidupan dan mengutamakan kepentingan kaum Kapital atau para pemilik modal. Sehingga, peraturan yang akan ditetapkan adalah peraturan yang dapat memberikan manfaat besar termasuk dari segi materi. Tanpa memandang efek buruk yang dapat terjadi bagi bangsa ini kedepannya jika peraturan tersebut diberlakukan.

Karena itu, sudah seharusnya kita kembali kepada aturan yang sempurna dan paripurna yaitu Islam. Bukan aturan yang terlahir dari pemikiran manusia. Tapi aturan yang diturunkan oleh Pencipta seluruh Alam Semesta termasuk manusia. Dimana, didalam Islam baik dari segi Individu dijaga dari segi kepatuhan dan ketundukannya kepada Allah SWT sehingga akan ada rasa takut jika melakukan suatu kemaksiatan. Kemudian, dari segi masyarakat pun akan mengkondisikan suasana yang jauh dari kemaksiatan. Maupun dari segi hukum, Islam tegas dalam menghukum para peminum khamr dengan hukuman cambuk sebanyak 40 atau 80 kali. [YAP]

WalLah a’lam bi ash-shawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s